Berikut artikel ±2000 kata yang original dan ditulis secara mendalam mengenai Sejarah Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejarah Terbentuknya NKRI: Dari Kerajaan Nusantara hingga Proklamasi dan Konsolidasi Negara
Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukanlah proses yang terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil perjalanan panjang sejarah yang melibatkan interaksi budaya, perkembangan kerajaan-kerajaan besar Nusantara, masa kolonialisme Eropa, pergerakan nasional, perjuangan bersenjata, hingga konsensus politik yang membentuk struktur negara modern. Artikel ini akan menguraikan secara komprehensif perjalanan panjang tersebut sebagai fondasi dari lahirnya NKRI.
1. Fondasi Awal: Nusantara sebelum Kolonialisme
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia sudah dihuni berbagai suku bangsa dengan sistem pemerintahan yang berbeda. Secara umum, kehidupan politik ketika itu berbentuk kerajaan atau kesultanan, dengan struktur sosial yang kompleks dan hubungan ekonomi serta diplomatik antarwilayah.
1.1 Kerajaan-Kerajaan Besar Nusantara
Beberapa kerajaan besar memiliki pengaruh luas dan sering dianggap sebagai cikal-bakal semangat persatuan Nusantara:
Kerajaan Sriwijaya
-
Berpusat di Sumatra (abad 7–13).
-
Menguasai jalur perdagangan laut Asia Tenggara.
-
Menjadi pusat pembelajaran Buddha yang terkenal hingga India dan Tiongkok.
-
Pengaruh politiknya menjangkau Semenanjung Malaka dan sebagian Kalimantan.
Sriwijaya menunjukkan bahwa wilayah Nusantara telah memiliki integrasi kebudayaan dan ekonomi jauh sebelum kolonialisme.
Kerajaan Majapahit
-
Berdiri pada abad ke-13 hingga 15.
-
Di bawah Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kejayaan.
-
Sumpah Palapa—yang menyatakan tekad mempersatukan Nusantara—sering dianggap sebagai simbol awal wawasan kebangsaan Indonesia.
Majapahit memperlihatkan konsep awal integrasi geopolitik yang kelak menjadi inspirasi pembentukan NKRI.
1.2 Jejaring Perdagangan dan Budaya
Hubungan antarpulau di Nusantara sudah terbangun kuat melalui jalur perdagangan rempah. Pelaut-pelaut Nusantara menjelajah hingga Afrika Timur. Interaksi intens antarwilayah membentuk identitas regional, yang kemudian berkembang menjadi identitas kebangsaan.
2. Datangnya Kolonialisme dan Dampaknya terhadap Nusantara
2.1 Portugis dan Spanyol
Kedatangan Portugis pada awal abad ke-16 menandai masuknya hegemoni Eropa ke Nusantara. Motivasi utama adalah menguasai perdagangan rempah. Spanyol juga sempat hadir di wilayah Timur seperti Maluku.
Keberadaan dua kekuatan Eropa ini mengubah dinamika politik lokal, memicu konflik antar kerajaan, dan membuka jalan bagi kolonialisme yang lebih sistematis.
2.2 Dominasi Belanda: VOC dan Pemerintah Hindia Belanda
VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan pada 1602 dan segera memonopoli perdagangan rempah. Setelah VOC bangkrut pada akhir abad ke-18, wilayah Nusantara dikuasai langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan disebut Hindia Belanda.
Belanda menerapkan strategi divide et impera, memecah kekuatan kerajaan lokal dan mengontrol wilayah secara bertahap.
2.3 Perlawanan Lokal
Perlawanan terhadap kolonialisme muncul di berbagai daerah, seperti:
-
Perang Diponegoro (1825–1830)
-
Perang Padri (1821–1837)
-
Perang Aceh (1873–1904)
-
Perang Banjar (1859–1906)
Meskipun bersifat lokal dan belum memiliki visi kebangsaan, perlawanan ini menjadi inspirasi bagi lahirnya semangat nasionalisme di kemudian hari.
3. Kebangkitan Nasional dan Lahirnya Kesadaran Kebangsaan
Pembentukan NKRI tidak lepas dari kebangkitan nasional pada awal abad ke-20. Pada masa ini, masyarakat Hindia Belanda mulai menyadari perlunya identitas bersama untuk melawan penjajahan.
3.1 Lahirnya Organisasi Modern
-
Budi Utomo (1908) menjadi organisasi modern pertama yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial.
-
Sarekat Islam (1912) tumbuh menjadi organisasi massa terbesar.
-
Indische Partij dipimpin oleh Tiga Serangkai: Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Organisasi-organisasi ini mendorong terbentuknya gagasan kesatuan nasional yang melampaui identitas etnis.
3.2 Sumpah Pemuda 1928
Salah satu tonggak terpenting sejarah NKRI adalah Sumpah Pemuda:
-
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia.
-
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
-
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar ini menegaskan persatuan identitas bangsa yang tidak lagi berdasarkan kesukuan, melainkan nasionalisme Indonesia.
3.3 Peran Pendidikan dan Pers
Tokoh seperti Ki Hajar Dewantara mendorong lahirnya sistem pendidikan nasional melalui Taman Siswa. Sementara itu, pers seperti Sin Po, Soeara Oemoem, dan Pewarta Soerabaia menjadi media perjuangan politik.
4. Masa Pendudukan Jepang dan Momentum Menuju Kemerdekaan
Pendudukan Jepang pada 1942–1945 menjadi titik balik sejarah. Jepang datang dengan propaganda "Saudara Tua" dan menjanjikan kemerdekaan Asia.
4.1 Pembentukan Lembaga-Lembaga Persiapan Kemerdekaan
-
Putera, Jawa Hokokai, dan BPUPKI dibentuk Jepang untuk menggalang dukungan rakyat.
-
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) beranggotakan tokoh penting seperti Soekarno, Hatta, Soepomo, dan Muhammad Yamin.
4.2 Perumusan Dasar Negara
Pada sidang BPUPKI, konsep dasar negara dirumuskan. Soekarno memperkenalkan gagasan Pancasila yang kemudian ditetapkan sebagai dasar negara.
4.3 Kemerdekaan Semakin Dekat
Setelah Jepang menyerah pada Sekutu pada 15 Agustus 1945, para pemimpin Indonesia melihat peluang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Terjadilah peristiwa Rengasdengklok yang bertujuan mempercepat proklamasi.
5. Proklamasi Kemerdekaan dan Lahirnya Republik Indonesia
Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atas nama bangsa Indonesia. Ini menjadi tonggak resmi berdirinya negara Indonesia.
5.1 Pembentukan Pemerintahan Awal
-
Soekarno dipilih menjadi Presiden.
-
Hatta dipilih menjadi Wakil Presiden.
-
PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) menyusun pemerintahan dan membagi wilayah Indonesia menjadi provinsi.
5.2 Makna Proklamasi bagi NKRI
Proklamasi menandai:
-
lahirnya negara berdaulat,
-
pengakuan terhadap persatuan bangsa,
-
titik awal Indonesia sebagai negara kesatuan.
6. Konsolidasi dan Peneguhan Bentuk NKRI
Setelah proklamasi, Indonesia menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal.
6.1 Agresi Militer Belanda
Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia dengan dua agresi militer:
-
Agresi I (1947)
-
Agresi II (1948)
Namun, melalui diplomasi internasional dan perjuangan rakyat, Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya.
6.2 Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Kembali ke NKRI
Pada 1949, sebagai kompromi diplomatik, Indonesia sempat berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Tetapi banyak daerah menolak bentuk federal yang dinilai sebagai upaya Belanda memecah Indonesia.
Melalui dukungan rakyat dan pemerintah, pada 17 Agustus 1950, Indonesia kembali menjadi NKRI.
6.3 Demokrasi Liberal dan Pergolakan Daerah
Pada era demokrasi liberal (1950–1959), muncul berbagai pergolakan daerah seperti DI/TII, PRRI/Permesta, dan RMS. Pergolakan ini disebabkan ketidakpuasan politik dan ekonomi, tetapi dapat diatasi melalui dialog dan operasi militer.
6.4 Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang memberlakukan kembali UUD 1945, sebagai upaya menstabilkan negara.
Dekrit ini menegaskan kembali prinsip NKRI sebagai negara kesatuan yang berlandaskan Pancasila.
7. NKRI Pasca Kemerdekaan: Integrasi, Demokrasi, dan Kebangsaan
7.1 Integrasi Wilayah
Proses integrasi wilayah dilanjutkan setelah kemerdekaan:
-
Pengembalian Irian Barat (1963)
-
Pembentukan provinsi-provinsi di Nusantara
-
Pengakuan atas wilayah dari Sabang sampai Merauke sebagai satu kesatuan.
7.2 Reformasi dan Penguatan Demokrasi
Sejak 1998, Indonesia memasuki era reformasi yang mendorong:
-
demokratisasi,
-
desentralisasi,
-
penguatan otonomi daerah.
Meski memberikan ruang kebebasan yang lebih luas, pemerintah tetap menjaga agar desentralisasi tidak mengancam keutuhan NKRI.
8. NKRI sebagai Negara Kesatuan: Filosofi dan Prinsip
NKRI dibangun atas empat pilar utama:
8.1 Pancasila
Sebagai dasar negara, Pancasila menjadi perekat bangsa dengan keanekaragaman budaya, agama, dan etnis.
8.2 UUD 1945
Menjadi landasan konstitusional yang mengatur struktur negara dan menjamin hak-hak warga negara.
8.3 Bhinneka Tunggal Ika
Semboyan persatuan yang menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk namun tetap satu.
8.4 Wawasan Nusantara
Cara pandang yang menegaskan wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan politik, sosial, ekonomi, pertahanan, dan keamanan.
9. Kesimpulan
Sejarah terbentuknya NKRI merupakan perjalanan panjang dari kebudayaan Nusantara, kolonialisme, kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan, hingga konsolidasi negara. NKRI lahir dari perpaduan antara cita-cita persatuan yang telah tumbuh sejak era Majapahit, semangat nasionalisme abad ke-20, dan perjuangan heroik rakyat Indonesia melawan penjajahan.
Hingga kini, NKRI terus berdiri sebagai negara berdaulat yang menjadi rumah bagi ratusan etnis, bahasa, dan budaya. Pemahaman terhadap sejarah pembentukannya penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus menjaga keutuhan negara di tengah tantangan zaman.
MASUK PTN